MENCARI KEADILAN
ditulis: muhammad holili
Pada zaman dahulu, seekor tupai tinggal dalam rongga batang pohon untuk jangka waktu yang lama. Ia sangat menyenangi tempat tiggalnya
Pada suatu hari, ia meninggalkan sarangnya untuk mencari makanan dan menemukan sebatang pohon kelapa
"Kelapa adalah makanan kesukaanku" katanya. Segera ia memanjat pohon kelapa itu dan mulai menyantap buahnya. Tupai kecil itu sangat sayang untuk meniggalkan buah kelapa di pohonnya selama beberapa hari.
Akhirnya buah-buah kelapa itu habis semuanya. "Baiklah aku pulang sekarang," ia berpikir, "aku sudah lama meninggalkan sarangku."
Namun, ketika tupai pergi, seekor tikus kecil dengan kecita telah menempati sarangnya dalam rongga kayu tersebut. Ketika sang tupai kembali ia sangat kaget menemukan tikus menempati rumahnya. "Apa yang kamu lakukan di sarangku?" Tupai bertanya dengan marah.
"Apa maksudmu mengatakan sarangmu?" Jawab si tikus." Tempat ini kosong ketika aku datang."
"Aku pergi untuk tinggal pada sebatang pohon kelapa untuk sementara. Sekarang lebih baik keluar sebelum aku benar-benar marah," teriak si tupai. "Aku tak peduli apakah kamu marah atu tidak. Aku tak kan meninggalkan sarangku ini,." Kata si tikus kecil.
Mendengar pertengkaran antara tupai dan tikus kecil itu, semua binatang berkumpul mengelilinginya.
"Sudahlah, kalian jangan ribut-ribut begini." Kata menjangan
"Lalu apa yang harus kami lakukan?."
"Mengapa kalian tidak menyuruh seorang hakim untuk memutuskan siapa yang berhak atas sarng ini?" Kata sang menjangan
"Itu gagasan yang baik," kata si tupai dan si tikus bersamaan.
Lalu mereka berdua mencari seorang hakim yang adil kemana-mana.
Akhirnya mereka berpapasan dengan seekor kucing.
Ia kelihatannya sangat tua dan terpelajar. "Bagiku ia tampaknya seperti seekor kucing yang bijaksana. Ayo kita minta padanya untuk menyelesaikan pertengkaran kita," kata sang tupai.
"Ah jangan!" Teriak si tikus, "kucing ini dapat membunuh kita."
Si kucing mendengar apa yang dibicarakan si tupai dan si tikus. Disini kesempatanku makan besar," pikirnya. Cepat-cepat ia menutup matanya berpura-pura membaca berdoa.
"Menurutku kucing ini tampaknya kucing suci," kata sang tupai, "aku tak yakin ia akan menyakiti kita.
"Ya!" Kata si tikus, "lihatlah khusyuknya ia berdoa."
"Mohon maaf tuan," kata tikus dan tupai bersama-sama.
"Sudikah tuan menyelesaikan pertengkaran kami?"
Si kucing tua membuka matanya dan berkata, "ya, kebijakan membantuku untuk memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salh ceritakan apa masalah kalian berdua."
Lalu si tupai dan si tikus mulai memberitahukan sang kucing apa yang terjadi. "Aku sangat tua," kata kucing yang licik itu. "Aku tak dapat mendengar dengan jelas. Dapatkah kalian sedikit lebih mendekat. Si tupai dan si kucing mendekati si kucing.
"Aku masih belum dapat mendengar apapun," kata sang kucing. "Cobalah lebih mendekat lagi." Tupai dan tikus yang dungu itu bergerak lebih mendekat lagi pada sang kucing dab sebelum menyadari apa yang terjadi, saat kucing menerkamnya dengan cakar dan segera menyabtapnya itulah akibat suka bertengkar, keduanya sama-sama celaka
Sumbe: MB. Rahimsyah, Syam, Irsyadul Anam. Kumpulan dongeng binatang. Mitra cendika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar